Minggu, 05 Oktober 2025

Obrolan Malam

Malam itu, kami bertiga berbincang panjang. Usia yang makin bertambah untuk menjadi dewasa, membuat pembahasan kami tidak lagi mengenai tugas-tugas kuliah yang telah lalu, akan pergi kemana waktu libur, atau mengenai makanan apa yang akan kami santap nanti. Melainkan mengenai kehidupan setelah menikah, bagaimana menjadi ibu dan bagaimana menjadi perempuan seutuhnya. Padahal, pasangan saja belum pasti hadirnya. Namun, pembahasan ini menjadi menyenangkan sekarang.

“Bagaimana menjadi ibu yang bahagia?

Bagaimana menjadi ibu yang bisa menjawab semua pertanyaan aneh anak-anaknya?

Bagaimana menjawab pertanyaan dengan selogis-logisnya dan mudah dipahami?

Bagaimana agar anak bahagia?

Bagaimana menjadi ibu yang bisa memberi teladan baik untuk anaknya?

Bagaimana agar mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anak?

Dan bagaimana agar anak mengenal Tuhan yang menciptakannya?”

 

Pembahasan ini diawali saat Mami (Panggilan akrab) melontarkan sebuah kalimat, “Ternyata punya anak itu benar-bener butuh kesiapan. Gua kemarin belajar banyak tentang ngurus anak.”

Itu membuat kami mendongakkan kepala saat masih sibuk dengan ponsel masing-masing. Dengan rasa penasarannya, kami menimpali, “Apa aja emang?”

Akhirnya Mami menceritakan kepada kami salah satu contoh seorang perempuan yang terlihat kurang siap memiliki anak. Itu membuat kami berkali-kali menelan ludah. Karena emang secapai itu menjadi seorang ibu baru, “Dan ternyata ada loh orang yang siap menikah, tapi nggak siap punya anak,” imbuh Mami.

“Bayi itu selalunya ngajak begadang. Itu tuh buat ngejaga kita. Tapi, kita sebagai ibu gamungkin membiarkan bayi kita melek sendirian ‘kan? Nah kapan waktu tidur bayi kalo malamnya begadang terus? Ya waktu tidurnya ganti siang. Nah, saat itu pula ibu ikut tidur. Tapi, kalo gitu terus, urusan rumah yang lain nggak bakal keurus ya ‘kan?” ujar Mami. Kami masih mencerna apa yang dia katakan.

Bayi memang sering sekali mengajak begadang ibunya, bahkan bisa saja kalo azan subuh belum berkumandang, belum juga tidur. Itu makanya, jadi ibu juga harus siap dengan resiko itu. Belum lagi urusan rumah, ngurus suami, dan hal-hal lainnya. Berhubung kami hidup di lingkungan yang mengedepankan pekerjaan rumah adalah bagian dari perempuan, maka kami juga memikirkannya. Bagaimana nanti kami melakukan semuanya dengan baik, bagaimana bisa mengaturnya, dan bagaimana agar kami nggak merasa sendirian (capai sendiri, stress sendiri, dan apa-apa sendiri). Dan lagi-lagi, semua itu butuh persiapan.

“Gua pernah ngasih kisi-kisi ke orang, kalo bayi nangis itu kemungkinan karena tiga hal, lapar, popok, dan tempat yang bikin dia nggak nyaman. Gua Cuma ngasih bocoran kan ya, urusan ngejalaninnya kan orang itu sendiri. Iyaa sih, gua belum nikah, Cuma sepengalaman gua ikut ngurusin keponakan gua, gua jadi tahu dikit-dikit lah ya dan harusnya orang itu tahu sih, tapi ternyata…” Mami mengembuskan napas frustrasi. “Soalnya ada tuh, bayi nangis terus, padahal ibunya disebelahnya. Dan yang dilakukan ibunya adalah ngasih susu. Bayi itu tetap nangis, ternyata masalahnya adalah popok yang belum diganti setengah hari, bayangin coba!”

Sebenarnya tujuan kami mengobrol hal ini adalah sebagai persiapan. Kami masih perlu banyak belajar agar bisa menjadi perempuan sekaligus ibu yang yang baik. Bagaimana agar rentetan trauma yang kami miliki tidak menurun ke pola asuh kami ke anak-anak nanti. Banyak yang harus kami ketahui, dari berbagai sumber, entah pengalaman, entah buku-buku, entah-entah jurnal akademik yang membahas tentang parenting. Mami juga selalu menjadi tempat bertanya kakaknya tentang anak. Meski Mami belum menikah, rasanya jika sama-sama berbagi ilmu yang diketahui, itu akan sedikit membantu.

“…. Mentok-mentok gua nyuruh kakak gua cari jurnal yang relevan sama masalahnya .…” begitu kata Mami ketika tidak punya solusi yang sebenarnya jadi solusi.

Kami juga sepertinya harus bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang ada ketika menjadi ibu baru. Menyesuaikan adat dari masing-masing daerah kami, yang itu sangat mendominasi di Jawa. Seperti saat baru melahirkan, orang-orang akan menjenguk. Dari momen ini ada banyak kemungkinan yang bisa menyentuh mental kami, pertanyaan-pertanyaan yang membuat tersinggung, kalimat-kalimat membandingkan bayi satu dengan bayi yang lainnya, ibu satu dengan ibu lainnya. Hal seperti itu bisa saja dihindari, tapi akan tampak berbeda. Toh, jika tidak ada jenguk-menjenguk, saudara sendiri bahkan, bisa saja membandingkan apa-apa milik kita dengan orang lain.

Semua kemungkinan menjadi ibu akan selalu menyentuh mental dan fisik. Jika kami tidak memiliki persiapan, salah satu atau bahkan dua-duanya akan runtuh dan itu memengaruhi sikap kami terhadap anak.

Obrolan malam kami diakhiri dengan doa. Tanpa sadar, kami mengutarakan harapan-harapan yang mungkin itu adalah harapan semua orang juga. Zaman yang katanya serba sulit ini, kami menginginkan keluarga yang mau diajak kerja sama dalam hal apapun. Tidak membebankan semua kepada suami atau istri saja, tetapi juga keduanya. Yang sadar tentang pentingnya masa depan anak tanpa dibumbui keegoisan orang tua. Yang sadar tentang pentingnya rumah tangga yang sehat. Dan malam itu kami berharap memiliki keluarga dengan financial freedom. Tentu kami berpikir jika kami memiliki financial freedom, kami dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak hanya itu, dengan financial freedom kami berpikir bahwa kami akan mampu memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak kami nanti. Terlepas dari madrasah pertama bagi anak-anak adalah ibunya dan ayah sebagai kepala sekolahnya, kami berharap setelah mendapatkan pendidikan pertama dari rumah, anak-anak dapat menjalani pendidikan dengan bahagia tanpa harus memusingkan biaya seperti ayah dan ibunya dahulu. Anak-anak dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan kami sebagai orang tua bertugas untuk mendukungnya.

Obrolan malam itu sebenarnya masih panjang. Karena pembahasan kami juga perlu penjelasan lebih panjang. Namun, kami mengakhirinya karena bagi kami, teori yang kami pelajari belum tentu sama dengan apa yang akan kami alami nanti. Setidaknya dengan kami membahas mengenai keluarga, parenting, dan semacamnya, kami memiliki sedikit pandangan bagaimana kami harus bersiap dan tidak buru-buru untuk memutuskan sesuatu yang akan kami bawa seumur hidup.

 

Senin, 11 Agustus 2025

Film Pendek: Keluarga Suami Adalah Hama, Jadi Istri berat, Jadi Suami Juga Berat

Film Pendek: Keluarga Suami Adalah Hama, Jadi Istri Emang Nggak Gampang, Jadi Suami Juga Berat

Penganut marriage is scary kalau mau nonton film ini, harus sampai akhir. Biar sisi gelap dan terangnya terlihat. Tulisan ini megandung spoiler, bagi kalian yang nggak nyaman, boleh lalu saja.

Mendengar kata mertua, membuat sebagian orang merasa bergidik. Seakan-akan mertua adalah sesuatu yang bisa saja menelan manusia hidup-hidup. Sehingga mertua menjadi antagonis di mata sosial. Siapa yang baca ini langsung ingat mertua? Silakan temui beliau, cium tangan wolak-walik. Hehe

Film garapan Aditya Santana yang tayang melalui aplikasi Noice ini tayang pada 17 April 2025. Saya menonton film ini atas rekomendasi teman melalui story whatsapp. Dari judulnya, saya seperti sudah menduga bahwa film ini akan menguras emosi. Betul saja, setelah menonton beberapa menit, saya mulai ikut geregetan dengan sikap-sikap yang ditampilkan oleh keluarga suami.

Rumah Impian Intan

Rata-rata orang yang sudah menikah akan memimpikan memiliki rumah sendiri. Membangun rumah tangga dan bahagia bersama keluarga kecilnya. Tidak perlu mewah, tapi nyaman untuk dihuni. Lain dengan Damar dan Intan yang kini tengah mengalami kesulitan untuk memisahkan diri dari keluarga Damar yang terdiri dari ibu dan dua orang adik, laki-laki dan perempuan. Ayahnya belum lama meninggal. Hanya rumah itu satu-satunya yang ayahnya tinggalkan untuk mereka. Sehingga terpaksa, Damar yang menjadi tulang punggung di keluarga itu.

Menurut saya, masalahnya bukan ada di pasutri itu, melainkan ada pada adik-adik Damar yang enggan membantu kebutuhan rumah. Semua kebutuhan ibunya dan adik-adiknya, termasuk kebutuhan pribadi adik laki-lakinya yang bernama Danan. Hal ini yang sering membuat emosi Damar kadang keluar dari kendali dan Intan berkali-kali menarik napas frustrasi. Dengan mencoba menanggung semua “beban” yang ada di keluarga itu, Intan mencoba sabar sekali lagi untuk rumah yang ia inginkan sejak menikah demi biaya wisudanya Danan, sedangkan adik perempuan Damar, Bela yang juga bekerja tidak memiliki inisiatif untuk membantu kesulitan yang dihadapi Damar. Ia malah dengan bangganya mengatakan bahwa ia akan bekerja di luar negeri dengan visa kerja minimal 50 juta.

Selain biaya kebutuhan rumah Damar yang menanggungnya, pekerjaan rumah tangga yang terlihat sepele itu Intan-lah yang melakukannya, mulai dari bangun tidur hingga akan memejamkan mata lagi. Tidak hanya itu, Intan juga harus menanggung “beban” psikis yang membuatnya menangis tiap kali menghadapinya. Beruntung ia memiliki teman yang mau diajak ngobrol tentang masalah rumah tangganya, meskipun temannya selalu memberikan tanggapan yang out of the box, tapi setidaknya Intan bisa tertawa sejenak.

Percaya Diri itu Baik, yang Nggak Baik itu Terlalu Percaya Diri yang Akhirnya Merugi

Bermula saat Damar menanyakan apa yang akan dilakukan Danan setelah wisuda. Danan dengan percaya diri mengatakan bahwa ia akan fokus dengan bisnis kopinya. Berbekal sosial media dengan banyak pengikut, Danan merasa dapat membangun personal brandingnya melalui itu. Padahal, Damar memberikan saran, lebik baik bekerja dahulu sebelum memulai bisnis. Saya sebagai penonton mendengar saran dari Damar ada benarnya juga, sebab melihat kondisi sekarang yang apa-apa butuh perencanaan matang dan modal yang bukan lagi hitungan ribu agar bisa menjalankan bisnis secara konsisten. Namun, Danan tetap kekeuh dengan rencananya.

Selang beberapa bulan, ekspresi Danan berubah. Semangat kerjanya terlihat menurun, kesehatan ibu juga sudah mulai terganggu. Damar dan Intan yang menerima penawaran pacarnya Bela mengenai tanah siap bangun, kini mengalami masalah baru. Pacar Bela yang memegang uang DP tanah itu tidak dapat dihubungi. Berkali-kali, setiap menit, setiap detik, Damar memcoba mengubunginya, tapi nihil. Bela sebagai pacarnya pun diabaikan. Hingga pada saat yang bersamaan, teman Intan yang bernama Ambar tidak sengaja melihat banner yang berisi tulisan bahwa tanah yang di DP Damar menjadi jaminan bank. Kalian bisa megerti ‘kan, Damar dan Intan mengalami apa? Ya, penipuan. Sehingga saat itu juga, Damar memutuskan untuk mencari kontrakan, meninggalkan rumah dengan pikiran yang carut marut, berharap ada keberuntungan sekali seumur hidup untuk membawa istrinya keluar dari rumah itu.

Puncaknya adalah sekembalinya damar dari mencari kontrakan yang tidak menemukan deal karena uangnya tidak cukup, Damar melihat rumahnya sudah bersegel sitaan bank. Satu-satunya peninggalan ayahnya itu digadaikan oleh adiknya, Danan untuk membangun bisnisnya yang berakhir tidak bisa mengangsur sebab bisnisnya tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Jadi Intan Berat, Jadi Damar Juga lebih Berat

Di titik paling berat, tidak semua orang dapat bertahan. Situasi yang menimpa keluarga Damar tidak kunjung mereda. Mungkin, masalah akan sedikit teratasi ketika adik-adiknya Damar menurunkan egonya, menghapus gengsinya demi kehidupan yang lebih stabil.

Di titik itu, Damar merasa putus asa. Segala hal yang ia lakukan demi keluarganya seperti sia-sia. Damar juga berpikir bahwa jika Intan ingin meninggalkannya, maka lakukan saja. Namun, Intan tidak akan melakukan hal itu. Baginya, Damar adalah suami yang baik, semua pengorbanan untuk dirinya dan keluarganya sangat luar biasa. Intan merasakan sakit, tapi jadi Damar juga lebih sakit. Intan menanggung beban yang berat di hatinya, jadi Damar juga lebih berat. Pada akhirnya, mereka memilih untuk bersama-sama sekali lagi.

Di ujung film diceritakan Bela memutuskan menunda bekerja di luar negeri dan mengorbankan tabungannya untuk membayar angsuran bank yang menunggak demi mempertahankan rumah yang mereka tempati. Danan juga memilih berkerja atas tawaran temannya dan menutup bisnis kopinya sebagai tanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat.

Mungkin bagi beberapa orang, termasuk saya, film ini terlampau relate. Sebab, seseorang yang memutuskan untuk menikah, berarti mereka harus siap dengan segala hal yang akan terjadi dalam pernikahan itu. Seperti keluarga Damar yang awalnya baik-baik saja saat ayahnya masih hidup, tiba-tiba dihadapkan berbagai masalah setelah kepergian ayahnya.

Sabtu, 31 Desember 2022

Jangan Lari, Terlukalah sampai Sembuh

".... Lari dari apa yang menyakitimu akan semakin menyakitimu. Jangan lari,  Terlukalah sampai kausembuh.... " maqolah dari Jalaluddin Rumi itu berhasil membuat benteng pertahanan Nayra runtuh. Gadis bermata cokelat, hidung minimalis, dan bibir tipis itu tengah menatap hamparan sawah di balkon restoran yang menampilkan pemandangan indah di sore hari. Seakan ia tengah menanggung beban paling berat dalam hidupnya. Setelah Nayra menceritakan apa yang tengah ia rasakan, seorang pemuda selisih lima tahun di hadapannya mendaratkan maqolah Rumi di telinganya. 

Tempo hari, Nayra memilih pergi dari kota asal menuju kota dengan minoritas muslim. Kota yang dijuluki sebagai kota pariwisata itu menjadi tujuan pelarian Nayra dari apa yang menyakitinya. Setahun lamanya ia berusaha menyembuhkan luka dengan menjadi guru mengaji di sana. Sesekali ia mengikuti diskusi moderasi beragama hanya untuk sekadar menjadi pelipur lara. Ia sengaja menyibukkan diri agar lupa dengan apa yang tengah dihadapi. 

Namun, waktu setahun tidak membuat Nayra benar-benar lupa. Sayangnya, ia malah makin merasa menderita. Berkali-kali ia mencari hal-hal yang dapat mengalihkan ingatannya, tetap saja pikiran Nayra akan kembali pada orang yang sempat menjadi teman perjalanan hidupnya. 

Sameer. Laki-laki yang selama ini menemani Nayra kemanapun ia pergi, menjadi tempat pulang ternyaman baginya, membuat Nayra memahami sebuah fakta bahwa sekeras apapun menolak takdir, manusia tetap tidak memiliki kuasa. 

Nayra menyeka air mata yang membanjiri pipi. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata apapun, hanya isak tertahan yang keluar dari mulutnya. Laki-laki dihadapannya yang merupakan teman Sameer, ikut diam menatap gadis itu. Seakan ia ikut merasakan perihnya pula. 

"Aku tidak akan bertanya tentang apapun. Yang aku tahu, jika kau terus berlari, bayang-bayang itu tidak akan meninggalkanmu." ujar laki-laki itu.

Tangis Nayra terhenti, meski isaknya masih tertinggal. Ia menatap laki-laki dihadapannya dengan tatapan penuh tanya. Seolah Nayra bertanya apa yang harus ia lakukan. 

"Waktu akan terus berjalan. Pemahaman-pemahaman baik akan kamu dapatkan. Berdoalah untuk Sameer karena yang kini ia harapkan hanya doa-doa dari orang yang menyayanginya. Ra, bukankah Tuhan memanggil hamba-Nya karena bentuk kasih sayang-Nya?"

......

- s e l e s a i -

Rabu, 28 Desember 2022

Antrian Panas

Seorang perempuan duduk mengantri di emperan bank. Dirinya tertutup oleh papan info bank, tapi terlihat dari dalam ruangan. Ia sudah kepanasan dari tadi, datang pukul sepuluh, sampai jam satu belum juga masuk ke bank. Nomor antrian yang panjang membuatnya hampir ingin membakar banknya saja. Pelayanan yang lama, membuat para pengantri mengeluh panjang. 

Perempuan itu akhirnya bersandar pada dinding kaca bank. Menyanyi lagu yang ia hafal liriknya, meski beberapa salah nada dan terdengar sumbang di telinga. Seorang teller yang melihat perempuan itu tertawa dalam maskernya. Sementara perempuan itu sudah tidak peduli tatapan-tatapan orang padanya.

"Perempuan itu lucu sekali," batin teller sambil melayani nasabah. 

Berkali-kali perempuan itu berdecak dan banyak mengembuskan napas kasar. Ternyata, menunggu itu membosankan. Syukur, ini masih banyak kepastian. Jika sia-sia, ia bersumpah akan merobohkan bank ini. 

Perempuan itu kembali bersandar dan menyanyi, meski lagi-lagi suaranya fals. Ia menggunakan tangannya sebagai mic, sampai ia terlihat sedikit tidak waras. 

"Allahu Akbar. Mungkin begini gambaranku menunggu jodoh. Berdoa sampai berbusa, pada akhirnya aku menunggu juga. Tidak papa, mungkin dengan begini aku lebih tahu arti bersabar dan percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik penentu. Heuheu .... " perempuan itu malah berpuisi dalam batinnya. Memang dia seorang seniman, hingga seluruh keadaannya dibuat layaknya drama, tapi tidak dramatis. 

Saat ia tengah mengembuskan napas kasar sekali lagi, dari dalam terdengar ketukan dinding kaca yang disandari perempuan itu, hingga membuat perempuan itu terkejut. 

"Mba, sudah saatnya anda masuk. Nomor antrian anda sudah dipanggil."

- s e l e s a i -

Sabtu, 30 Januari 2021

Ibuku Segalaku


Cinta kasih ibu sepanjang masa, nyanyian itu benar adanya. Sesering apapun aku menyakiti ibu, senyumnya selalu tergambar jelas dari sudut bibirnya. Menjadi seorang anak, aku berkali-kali merasa bersalah, tetapi kembali mengulangi kesalahan yang berbeda. 

Hari itu, aku pulang dari sekolah, satu hal yang selalu aku tanyakan adalah "Dimana ibu?". Mengecup punggung tangan ibu, rasanya sudah tak muda lagi, sedangkan aku belum menunjukkan bakti. 

Di balik senyum seorang ibu, ada ayah yang sama-sama berjuang demi anaknya, termasuk untukku. Orang tua hanya berharap anaknya menjadi manusia yang berguna di masa yang akan datang. Doa-doanya mengalir sepanjang waktu. 

Cerita ibu selalu tak berujung. Kisah kasih yang tertulis selalu menjadi semangat. Aku selalu mengingat bahwa surga berada di telapak kaki ibu.

Pekalongan, 30 Januari 2021

Senin, 24 Agustus 2020

CERMIN as Cerita Mini

Judul : Freedom
Penulis : Naila Nadlifah
Tema : Kemerdekaan

Rena terlampau senang karena ia bisa masuk kuliah tanpa tes. Tidak ada yang sia-sia perjalanan sekolahnya yang kini membuahkan hasil. 

Masuk perguruan tinggi nasional itu impian banyak orang. Rena mendapatkan kesempatan itu dengan belajar setiap hari. Dengan begitu, mustahil jika Tuhan tidak memberikan kenikmatan yang sebanding dengan usahanya. 

"Na, senang ya jadi kamu," sidir Nisa pada Rena.

"Bagaimana bisa?" tanya Rena tampak heran. 

Nisa menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Rena. Mereka tengah di halte menunggu tumpangan siang yang panas itu. 

"Kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau tanpa susah-susah," ujar Nisa dengan muka murung. 

Rena tersenyum, ia selalu mendapatkan pertanyaan serupa dari orang-orang di sekitarnya. Namun, Rena tidak pernah marah karena ia tahu, sebagian manusia hanya dapat melihat hasil daripada proses panjang yang dilalui. 

Bukankah itu juga bagian dari kemerdekaan berpendapat? Siapapun boleh mengutarakan apa yang telah dilihat, didengar, dan dirasa. Begitu juga Nisa. 

"Mudah ataupun susahnya itu tergantung pikiran kamu, Nis," ucap Rena lembut.

"Kamu enak, Na," ungkap Nisa hanya meliriknya sekilas, lalu menghembuskan napasnya pelan, "jadi anak satu-satunya dan mendapatkan kasih sayang orang tua secara utuh."

Rena lagi-lagi tersenyum. Nisa selalu begini, membandingkan dirinya dengan orang lain yang menurutnya lebih baik. 

"Aku selalu dibandingin sama anak tetangga, Na. Makanya aku gak bisa bebas melakukan apa yang aku mau," tutur Nisa sedih. 

Rena mengelus punggung Nisa pelan, "Kamu hebat kok, Nis."

Nisa tampak heran, keluarganya saja tidak pernah memujinya. Tapi Rena? 

"Aku gak bisa seperti kamu, Na."

"Nisa, potensi manusia itu masing-masing. Kamu bisa kok jadi apa yang kamu inginkan. Negara ini sudah merdeka, Nis. Kamu bebas melakukan apa yang kamu mau, selagi itu baik. Bebas itu ketika kamu tidak membandingkan diri kamu dengan pencapaian orang lain," tutur Rena menatap Nisa, "merdeka itu ketika kamu menjadi apa yang kamu inginkan, bukan yang orang lain inginkan."

Nisa tersenyum kecut. Rena ada benarnya juga.

Minggu, 19 Juli 2020

INSECURE

Insecure 

Kamu istimewa untuk hidupmu. Siapapun takkan pernah menjadi dirimu dan dirimu tidak akan menjadi siapapun kecuali menjadi diri sendiri. 

Kamu baik untuk dirimu sendiri dan hidupmu. Jangan mengharapkan orang lain berbuat baik kepadamu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri untuk berbuat baik kepada orang lain. 

Kamu menatap kosong dirimu dalam cermin. Berkali-kali bergumam dalam hati, "Siapakah aku?" 

Padahal kamu terbiasa dengan perkataan orang mengenai penampilanmu yang serba sederhana, tetapi mengapa kini kamu terlihat sangat jatuh hanya karena perkataan tidak penting itu?

Apa istimewanya orang yang menghinamu? Hingga kamu terjatuh dalam sekejap. Kamu menutup wajah dengan kedua telapak tanganmu. Tak terasa air mata mengalir hangat di pipimu.

Kamu terisak dalam diam. Rasanya sesak sekali dadamu. Ada yang ingin kamu sampaikan. Tapi, kamu memilih bungkam. Kamu memiliki bermacam cara untuk membalas perkataan itu. Tapi, lidahmu kelu. 

Lagi-lagi ruang kecil dalam dada yang disebut hati mengatakan sesuatu.

"Kamu hebat untuk dirimu dan hidupmu!" 

Betapa menderitanya dirimu dengan mental yang sangat rendah, jiwa yang rapuh, serta pikiran yang seringkali kacau. Saat kamu sudah mapan dengan keadaanmu, seseorang tidak tahu malu mengatakan hal sampah di hadapanmu.

"Bodoh!"

"Jelek!"

"Mahasiswi buangan aja belagu!" 

Saat prestasimu tidak dihargai sebagaimana mestinya. Penampilanmu tidak sama dengan yang lainnya. Di situlah Kamu merasa hidupmu tidak berguna.

Perlahan kamu melepas telapak tangan dari wajahmu. Kamu kembali menatap cermin, melihat pantulan dirimu yang kacau. Bibir pucatmu rapat, gigimu mengerat, dan dadamu berdesir hebat. 

Terbersit satu keinginan saat hidup dalam kekacauan. 

"Apa dengan mengakhiri hidup, semua penderitaanku akan usai?"

Pikiran setan yang mengajakmu menghadap Tuhan, terlintas begitu saja. Saat begitu kalapnya dirimu dengan hasutan, terdengar suara pintu terbuka. Terlihat sosok yang sangat kamu kagumi sepanjang hidupmu. Dia menjadi bagian dari semangatmu.

"Ibu!" ucapmu disela isak. 

Wanita paruh baya itu masuk ke kamarmu. Menatap iba dirimu yang sangat kacau, lalu menyunggingkan senyum tulus. 

"Tidak seharusnya kamu mendengarkan perkataan mereka," ucap Ibumu lembut. 

Ia memelukmu, membiarkan kepalamu terbenam dalam pelukan hangatnya. Tangismu kembali pecah saat Ibumu mengelus rambutmu.

"Lupakan! hatimu terlalu kuat untuk menerima perkataan mereka," lirih Ibumu. 

Tangismu perlahan reda, dadamu kembali hangat, dan pikiranmu kembali terbuka. Sihir terampuh untuk mengobati kekacauan hidupmu adalah Ibumu. 

"Hanya dengan bersyukur, kamu akan mengerti semuanya."

Minggu, 05 Juli 2020

Lembah Surga

Lembah Surga
Oleh : Naila Nadlifah (Nitrate)
Gadis kecil bernama Rasya Violina tengah mengeja aksara dengan terbata. Membuka halaman demi halaman yang berisikan tulisan bergambar bersama dengan Ibu Guru Sarah, yang setia menemaninya setiap hari di jam sekolah pada umumnya. Hari-harinya dihabiskan di rumahnya, tidak pernah keluar dan Rasya tidak mempunyai teman.
“Pa, Rasya bosan belajar di rumah, Rasya ingin keluar, main sama teman-teman,” pinta Rasya kepada papanya yang tengah membaca Koran di depan rumahnya.
“Rasya kan bisa main sama Ibu Guru Sarah,” tutur papanya.
“Tapi Ibu Guru Sarah sukanya membaca dan menulis,” 
“Nah, Rasya kan mainannya itu, bukan yang lain,” kata papanya seraya mengusap lembut kepala putrinya.
Tanpa berkata apapun, Rasya langsung masuk dan duduk kembali bersama Ibu Guru Sarah yang baru saja selesai salat zuhur. Ibu Guru Sarah kembali memainkan pensilnya, menuliskan sesuatu di kertas kosong. Sedangkan Rasya hanya terduduk lesu sembari mengayunkan kakinya.
“Rasya mau menggambar?” Ibu Guru Sarah menawarkan hal yang paling disukai Rasya. Dengan cepat, Rasya mengangkat kepalanya serta matanya terbelalak lebar mendengar kata itu.
“Mau mau!” 
“Ibu bawain kamu cat air, cat minyak, dan pensil warna, ayo kita menggambar!”
Rasya dan Ibu Guru Sarah mulai mengguratkan beberapa garis membentuk suatu objek. Bibir Rasya sedikit maju karena terlalu serius dalam menggambar. Keduanya fokus pada masing-masing kesibukannya.
“Rasya menggambar apa?” Ibu Guru Sarah menghentikan kegiatannya, beralih ke Rasya yang masih asyik dengan pensil warnanya.
“Rasya menggambar lembah, Bu,” jawab Rasya datar dengan tangan yang masih lihai mengguratkan pensilnya.
“Kenapa kamu menggambar itu? Bukankah kamu suka bunga dan kupu-kupu, kenapa tidak menggambar itu saja?” timpal Ibu Guru Sarah.
“Karena Rasya igin jalan-jalan ke lembah bunga, Bu, bermain dengan kupu-kupu,” ujar Rasya seraya mengangkat kepalanya antusias.
“Rasya belum pernah ke lembah bunga?” tanya Ibu Guru Sarah, sementara Rasya hanya menggeleng sebagai jawabannya.
Hari ini Ibu Guru Sarah sengaja tidak memberikan mata pelajaran. Sebab, Ibu Guru Sarah tidak tega melihat Rasya pucat pasi ketika ia menerangkan sesuatu. Seolah Rasya tidak sampai menangkap apa yang diterangkan Ibu Guru Sarah.
Esoknya, Rasya tidak sadarkan diri. Ia terkapar di ranjang rumahnya. Wajah mungilnya kehilangan ceria. Oh Tuhan, mengapa gadis kecil itu yang harus merasakan derita yang amat menyakitkan? Dunianya masih sangat indah untuk ia habiskan dengan bermain bersama teman-temannya. Tapi, ia harus merasakan dunia yang berbeda dengan mereka.
Papanya hanya dapat menangis dan tak hentinya merapalkan doa-doa demi buah hatinya. Di samping ranjang Rasya juga berdiri seorang dokter cantik bernama Hana. Ia merawat Rasya intensif ketika Rasya drop. 
“Yang tabah, Pak! Rasya akan baik-baik saja. Banyak anak seperti Rasya mengalami hal seperti ini, Pak, tapi mereka tetap aktif bermain dengan teman-temannya,” ujar Dokter Hana.
“Iya, Dok. Terakhir dia mengatakan ingin pergi ke lembah bunga, apakah boleh dibawa kesana, sedangkan kesehatannya belum juga membaik?” 
“Antarkan saja dia kesana, Pak. Dia juga membutuhkan kesenangan semacam itu,”
“Baik, begitu ia sedikit membaik akan saya bawa ia melihat lembah.”
Beberapa bulan kemudian....
Senja mengungkung lembah bunga yang diimpikan Rasya. Jingganya merekah menambah indah lembah bunga itu. Rasya menatap takjub keindahan lembah bunga yang menyuguhkan bunga-bunga yang tak kuncup di sore hari.
“Pa, Rasya ingin bunga berwarna biru itu,” katanya sambil menunjuk bunga mawar biru. Sementara papanya dengan sigap memetikkan mawar biru itu.
Rasya tersenyum senang meraih bunga mawar biru. Namun dibalik senyumnya, ia merasakan sakit yang begitu hebat. 
“Pa, Rasya mau pergi ke lembah surga. Di sana bunganya lebih banyak dan lebih indah daripada disini. Di sana juga ada sungainya, Pa,” tuturnya denan membentuk segaris senyum yang amat manis.
Cinta pertama Rasya adalah lembah bunga, yang tidak akan pernah menyakiti dirinya, yang tidak akan pernah menduakan keindahannya. Sebab, cinta pertama bagi Rasya adalah ketika ia bisa memandang indahnya dunia, selain rumahnya.
Malaikat melesat siap menjemput ruh yang bercahaya. Pancaran sinarnya menembus lembah yang kini tengah dinikmati Rasya. Gadis kecil ini akan siap tinggal nama, meninggalkan orang yang menyayanginya demi memenuhi panggilan Rabb-nya.


~SELESAI~


Cerpen ala aku. Masih banyak kesalahan karena ini cerpen sebelum aku mengenal PUEBI. Hehe. Mohon maklum...

Kamis, 01 November 2018

The Power of Santri

Azan maghrib berkumandang menggetarkan telinga. Para santri bergegas menuju ruang salat untuk mengikuti jamaah, ada pula yang tengah mengantri wudu, dan ada yang tengah menjumput sarung dan kopiah yang menggantung di langit-langit kamar.

"Ayo, Syad, pak kiai sudah datang!" Seru Asep kepada Arsyad yang tengah sibuk memakai sarungnya.

"Bentar-bentar! Sarungnya tinggi sebelah, Sep," ujar Arsyad. Mungkin ia tergesa-gesa hingga memakai sarung pun tidak sebagaimana mestinya, "ayo, Sep!" lanjutnya setelah membenarkan posisi sarung yang tinggi sebelah.

Semua santri putra melaksanakan salat berjamaah. Tidak ada yang absen untuk kegiatan itu. Sebab, satu kali tidak mengikuti salat berjamaah, pasti terkena takzir (sebutan hukuman di pondok pesantren).

Usai salat maghrib, para santri membaca wirid hingga menjelang isya. Saat para santri berseru membaca wirid, kepala Arsyad tertunduk dalam-dalam. Ya, dia mengantuk. Bahkan, tertidur dalam posisi duduk.

"Arsyad!" Lirih Asep sembari menyenggol lengan Arsyad, "jangan tidur tho!  Kalo pak kiai lihat, bisa kena marah kamu," lanjutnya berbisik dan Arsyad hanya mengangkat jempolnya.

Azan isya menggema, membaca wirid pun selesai. Semua santri kini bersiap salat isya, yang tadi mengantuk bergegas mengambil air wudu.

Usai mengerjakan empat rakaat di sepertiga malam pertama, para santri menuju ruang kelas untuk mengaji. Membawa kitab Alfiyah Ibnu Malik serta kitab kecil berisi nadhamnya.

Saat para santri sibuk mengobrol dan bergurau sembari menunggu pak ustadz datang, Arsyad mencoba membuka kitab dan membacanya. Ya, Arsyad adalah juara pondok. Cara dia membaca kitab, hafalan, dan nahwu sharafnya luar biasa.

Setelah lama menunggu, pak ustadz tidak kunjung datang. Jika seperti ini, para santri paham, pasti pak ustadz tidak datang!

"Rek! Yok lalaran wae, pak ustadz mboten rawuh kayane," seru salah seorang santri yang langsung disetujui oleh teman-temannya.

"Ayok! Awakmu nabuh ember, aku nabuh gayung, Arsyad nabuh galon, liyane nyanyi!" Perintah santri tadi.

"Eh kok nyanyi ki pye? Lalaran woy!" Sangkal Asep.

"Iyo, Sep, maksudku kui," balas santri itu.

Para santri yang ada di kelas itu bersama-sama melantunkan Nadhom Alfiyah Ibnu Malik dengan lantang dan kompak.

"Qoola Muhammadun Huwabnu Maliki..."

Tidak sampai selesai seribu dua bait, hanya hampir setengahnya. Sebab, malam semakin larut dan para santri kembali ke kamar masing-masing.

Saat Arsyad dan Asep hendak ke kamar, seorang ustadz menghampiri mereka.

"Syad, Sep, lusa kan hari santri, kalian disuruh pak kiai mengikuti lomba baca kitab, gimana?" Ucap ustadz itu.

"Siap, Tadz! Ngomong-ngomong hadiahnya apa, Tadz?" Ujar Asep dengan muka sumringah, sedang ustadz itu hanya tersenyum.

"Husss, Sep! Jangan ngarepin hadiahnya, yang paling penting niatnya buat mencari ridha Allah dan barokahnya ilmu, Sep," sangkal Arsyad menjelaskan.

"Nah bener tuh, Syad, dengerin atuh, Sep!" kata ustadz itu membenarkan perkataan Arsyad. Sedang Asep, hanya menyeringai lebar. Merutuki perkataannya barusan.

Menjelang hari santri, para santripun bersih-bersih lingkungan pondok pesantren. Menyiapkan segala sesuatu untuk acara pengajian. Hari ini tidak ada jam mengaji. Seluruh santri sibuk untuk acara tersebut.

Setelah semua beres, para santri istirahat di teras pondok. Sekadar berbaring menikmati udara segar. Bagitu pula Arsyad dan Asep. Serasa tak berdosa, mereka berbaring di atas panggung untuk acara pengajian nanti malam.

"Syad, sampah tadi pagi belum kubuang, aku lupa kalo hari ini piket," ucap Asep sembari menepuk jidatnya.

"Ha ha tak tau, ayolah kita buang sekarang!" Sahut Arsyad menirukan gaya salah satu tokoh kartun animasi.

Tanpa babibu, Asep beranjak dari panggung, sedikit berlari menuju belakang pondok, disusul Arsyad dibelakangnya.

Saat tiba di belakang pondok, Asep tidak melihat tumpukan sampah seperti tadi pagi. Ia mulai risau. Kenapa dia bisa lupa dengan piketnya?

"Syad, sampahnya hilang! Duh, bisa kena marah lurah pondok ini," ujar Asep merutuki dirinya sendiri.

"Mungkin udah dibuang Rahmat, Sep, dia piket bareng kamu kan?" Ucap Arsyad.

"Rahmat nggak tugas buang sampah, Syad, dia tugas bersihin kamar mandi sama anak-anak lain," ucap Asep.

Sebenarnya itu adalah piket para santri yang sudah di ndalem (semacam mengabdi pada kiai). Jadi, piket itu dibagi bukan untuk seluruh santri, tapi hanya untuk para santri yang di ndalem. Termasuk Arsyad dan Asep.

Dari kejauhan terlihat dua orang lelaki, yang satu membawa gerobak sampah dan yang satu menjinjing bak sampah. Asep semakin ketar-ketir.

Ternyata benar, mereka adalah lurah pondok dan santri yang telah lama mengabdi. Asep hanya merunduk dalam-dalam. Ia waspada dengan lurah pondok yang terkenal tegas itu.

"Kamu yang piket hari ini ya?" Ujar lurah pondok setelah sampai didepan Asep berdiri.

"Nggih, Tadz," jawab Asep lirih.

"Lain kali lebih tanggung jawab dengan tugasmu sendiri!" Tegas lurah pondok membuat Asep bergidik ngeri.

"Nggih, Tadz!" jawab Asep datar.

Malam harinya para santri bersiap-siap untuk mengikuti acara. Memakai baju serba putih. Acara diawali dengan membaca salawat nariyah dan dilanjutkan dengan acara lainnya.

Acara demi acara terlaksana sebagaimana mestinya. Pengajian ditutup dengan penampilan drama dari kelas 5 Ibtida'. Kini giliran membersihkan seluruh peralatan ataupun lingkungan yang dipakai.

Keesokan paginya, Arsyad dan Asep bersiap mengikuti lomba. Menyiapkan kitab kuning yang sesuai ketentuan lomba. Tidak hanya Arsyad dan Asep, santri lain pun bersiap untuk ikut meramaikan acara perlombaan di hari santri yang dihadiri oleh para ulama, kiai, dan para santri.

"Udah siap?" Tanya ustadz pada Arsyad dan Asep.

"Insyaallah siap, Tadz!" jawab keduanya serentak.

Sesampainya di tenpat lomba, Arsyad dan Asep di tempatkan pada posisi para peserta lomba yang didepannya terdapat para kiai dengan wajah berseri.

Lomba dimulai, satu per satu peserta lomba baca kitab maju. Sekarang giliran Asep. Ia mengatur napasnya yang tidak teratur. Degup jantungnya semakin kencang. Namun, seterusnya lancar.

Selang beberapa menit, Asep selesai. Wajahnya kembali menampakkan senyum. Kini waktu untuk Arsyad maju. Ia menarik napas perlahan.

"Fashlun, utawi iki iku fasal suwiji...." Arsyad mulai membaca kitabnya. Lancar. Pertanyaan-pertanyaan pun dapat ia jawab dengan cepat dan tepat.

Jihad seorang santri bukan berperang dengan senjata, menyalahkan orang lain, dan mengafirkan satu sama lain. Bukan! Tetapi santri berjihad dengan ilmu, dengan patuh pada kiai, ustadz, dan para guru, dan tak lupa patuh pada orang tuanya.