Minggu, 19 Juli 2020

INSECURE

Insecure 

Kamu istimewa untuk hidupmu. Siapapun takkan pernah menjadi dirimu dan dirimu tidak akan menjadi siapapun kecuali menjadi diri sendiri. 

Kamu baik untuk dirimu sendiri dan hidupmu. Jangan mengharapkan orang lain berbuat baik kepadamu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri untuk berbuat baik kepada orang lain. 

Kamu menatap kosong dirimu dalam cermin. Berkali-kali bergumam dalam hati, "Siapakah aku?" 

Padahal kamu terbiasa dengan perkataan orang mengenai penampilanmu yang serba sederhana, tetapi mengapa kini kamu terlihat sangat jatuh hanya karena perkataan tidak penting itu?

Apa istimewanya orang yang menghinamu? Hingga kamu terjatuh dalam sekejap. Kamu menutup wajah dengan kedua telapak tanganmu. Tak terasa air mata mengalir hangat di pipimu.

Kamu terisak dalam diam. Rasanya sesak sekali dadamu. Ada yang ingin kamu sampaikan. Tapi, kamu memilih bungkam. Kamu memiliki bermacam cara untuk membalas perkataan itu. Tapi, lidahmu kelu. 

Lagi-lagi ruang kecil dalam dada yang disebut hati mengatakan sesuatu.

"Kamu hebat untuk dirimu dan hidupmu!" 

Betapa menderitanya dirimu dengan mental yang sangat rendah, jiwa yang rapuh, serta pikiran yang seringkali kacau. Saat kamu sudah mapan dengan keadaanmu, seseorang tidak tahu malu mengatakan hal sampah di hadapanmu.

"Bodoh!"

"Jelek!"

"Mahasiswi buangan aja belagu!" 

Saat prestasimu tidak dihargai sebagaimana mestinya. Penampilanmu tidak sama dengan yang lainnya. Di situlah Kamu merasa hidupmu tidak berguna.

Perlahan kamu melepas telapak tangan dari wajahmu. Kamu kembali menatap cermin, melihat pantulan dirimu yang kacau. Bibir pucatmu rapat, gigimu mengerat, dan dadamu berdesir hebat. 

Terbersit satu keinginan saat hidup dalam kekacauan. 

"Apa dengan mengakhiri hidup, semua penderitaanku akan usai?"

Pikiran setan yang mengajakmu menghadap Tuhan, terlintas begitu saja. Saat begitu kalapnya dirimu dengan hasutan, terdengar suara pintu terbuka. Terlihat sosok yang sangat kamu kagumi sepanjang hidupmu. Dia menjadi bagian dari semangatmu.

"Ibu!" ucapmu disela isak. 

Wanita paruh baya itu masuk ke kamarmu. Menatap iba dirimu yang sangat kacau, lalu menyunggingkan senyum tulus. 

"Tidak seharusnya kamu mendengarkan perkataan mereka," ucap Ibumu lembut. 

Ia memelukmu, membiarkan kepalamu terbenam dalam pelukan hangatnya. Tangismu kembali pecah saat Ibumu mengelus rambutmu.

"Lupakan! hatimu terlalu kuat untuk menerima perkataan mereka," lirih Ibumu. 

Tangismu perlahan reda, dadamu kembali hangat, dan pikiranmu kembali terbuka. Sihir terampuh untuk mengobati kekacauan hidupmu adalah Ibumu. 

"Hanya dengan bersyukur, kamu akan mengerti semuanya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar