Minggu, 05 Juli 2020

Lembah Surga

Lembah Surga
Oleh : Naila Nadlifah (Nitrate)
Gadis kecil bernama Rasya Violina tengah mengeja aksara dengan terbata. Membuka halaman demi halaman yang berisikan tulisan bergambar bersama dengan Ibu Guru Sarah, yang setia menemaninya setiap hari di jam sekolah pada umumnya. Hari-harinya dihabiskan di rumahnya, tidak pernah keluar dan Rasya tidak mempunyai teman.
“Pa, Rasya bosan belajar di rumah, Rasya ingin keluar, main sama teman-teman,” pinta Rasya kepada papanya yang tengah membaca Koran di depan rumahnya.
“Rasya kan bisa main sama Ibu Guru Sarah,” tutur papanya.
“Tapi Ibu Guru Sarah sukanya membaca dan menulis,” 
“Nah, Rasya kan mainannya itu, bukan yang lain,” kata papanya seraya mengusap lembut kepala putrinya.
Tanpa berkata apapun, Rasya langsung masuk dan duduk kembali bersama Ibu Guru Sarah yang baru saja selesai salat zuhur. Ibu Guru Sarah kembali memainkan pensilnya, menuliskan sesuatu di kertas kosong. Sedangkan Rasya hanya terduduk lesu sembari mengayunkan kakinya.
“Rasya mau menggambar?” Ibu Guru Sarah menawarkan hal yang paling disukai Rasya. Dengan cepat, Rasya mengangkat kepalanya serta matanya terbelalak lebar mendengar kata itu.
“Mau mau!” 
“Ibu bawain kamu cat air, cat minyak, dan pensil warna, ayo kita menggambar!”
Rasya dan Ibu Guru Sarah mulai mengguratkan beberapa garis membentuk suatu objek. Bibir Rasya sedikit maju karena terlalu serius dalam menggambar. Keduanya fokus pada masing-masing kesibukannya.
“Rasya menggambar apa?” Ibu Guru Sarah menghentikan kegiatannya, beralih ke Rasya yang masih asyik dengan pensil warnanya.
“Rasya menggambar lembah, Bu,” jawab Rasya datar dengan tangan yang masih lihai mengguratkan pensilnya.
“Kenapa kamu menggambar itu? Bukankah kamu suka bunga dan kupu-kupu, kenapa tidak menggambar itu saja?” timpal Ibu Guru Sarah.
“Karena Rasya igin jalan-jalan ke lembah bunga, Bu, bermain dengan kupu-kupu,” ujar Rasya seraya mengangkat kepalanya antusias.
“Rasya belum pernah ke lembah bunga?” tanya Ibu Guru Sarah, sementara Rasya hanya menggeleng sebagai jawabannya.
Hari ini Ibu Guru Sarah sengaja tidak memberikan mata pelajaran. Sebab, Ibu Guru Sarah tidak tega melihat Rasya pucat pasi ketika ia menerangkan sesuatu. Seolah Rasya tidak sampai menangkap apa yang diterangkan Ibu Guru Sarah.
Esoknya, Rasya tidak sadarkan diri. Ia terkapar di ranjang rumahnya. Wajah mungilnya kehilangan ceria. Oh Tuhan, mengapa gadis kecil itu yang harus merasakan derita yang amat menyakitkan? Dunianya masih sangat indah untuk ia habiskan dengan bermain bersama teman-temannya. Tapi, ia harus merasakan dunia yang berbeda dengan mereka.
Papanya hanya dapat menangis dan tak hentinya merapalkan doa-doa demi buah hatinya. Di samping ranjang Rasya juga berdiri seorang dokter cantik bernama Hana. Ia merawat Rasya intensif ketika Rasya drop. 
“Yang tabah, Pak! Rasya akan baik-baik saja. Banyak anak seperti Rasya mengalami hal seperti ini, Pak, tapi mereka tetap aktif bermain dengan teman-temannya,” ujar Dokter Hana.
“Iya, Dok. Terakhir dia mengatakan ingin pergi ke lembah bunga, apakah boleh dibawa kesana, sedangkan kesehatannya belum juga membaik?” 
“Antarkan saja dia kesana, Pak. Dia juga membutuhkan kesenangan semacam itu,”
“Baik, begitu ia sedikit membaik akan saya bawa ia melihat lembah.”
Beberapa bulan kemudian....
Senja mengungkung lembah bunga yang diimpikan Rasya. Jingganya merekah menambah indah lembah bunga itu. Rasya menatap takjub keindahan lembah bunga yang menyuguhkan bunga-bunga yang tak kuncup di sore hari.
“Pa, Rasya ingin bunga berwarna biru itu,” katanya sambil menunjuk bunga mawar biru. Sementara papanya dengan sigap memetikkan mawar biru itu.
Rasya tersenyum senang meraih bunga mawar biru. Namun dibalik senyumnya, ia merasakan sakit yang begitu hebat. 
“Pa, Rasya mau pergi ke lembah surga. Di sana bunganya lebih banyak dan lebih indah daripada disini. Di sana juga ada sungainya, Pa,” tuturnya denan membentuk segaris senyum yang amat manis.
Cinta pertama Rasya adalah lembah bunga, yang tidak akan pernah menyakiti dirinya, yang tidak akan pernah menduakan keindahannya. Sebab, cinta pertama bagi Rasya adalah ketika ia bisa memandang indahnya dunia, selain rumahnya.
Malaikat melesat siap menjemput ruh yang bercahaya. Pancaran sinarnya menembus lembah yang kini tengah dinikmati Rasya. Gadis kecil ini akan siap tinggal nama, meninggalkan orang yang menyayanginya demi memenuhi panggilan Rabb-nya.


~SELESAI~


Cerpen ala aku. Masih banyak kesalahan karena ini cerpen sebelum aku mengenal PUEBI. Hehe. Mohon maklum...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar