Senin, 24 Agustus 2020

CERMIN as Cerita Mini

Judul : Freedom
Penulis : Naila Nadlifah
Tema : Kemerdekaan

Rena terlampau senang karena ia bisa masuk kuliah tanpa tes. Tidak ada yang sia-sia perjalanan sekolahnya yang kini membuahkan hasil. 

Masuk perguruan tinggi nasional itu impian banyak orang. Rena mendapatkan kesempatan itu dengan belajar setiap hari. Dengan begitu, mustahil jika Tuhan tidak memberikan kenikmatan yang sebanding dengan usahanya. 

"Na, senang ya jadi kamu," sidir Nisa pada Rena.

"Bagaimana bisa?" tanya Rena tampak heran. 

Nisa menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Rena. Mereka tengah di halte menunggu tumpangan siang yang panas itu. 

"Kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau tanpa susah-susah," ujar Nisa dengan muka murung. 

Rena tersenyum, ia selalu mendapatkan pertanyaan serupa dari orang-orang di sekitarnya. Namun, Rena tidak pernah marah karena ia tahu, sebagian manusia hanya dapat melihat hasil daripada proses panjang yang dilalui. 

Bukankah itu juga bagian dari kemerdekaan berpendapat? Siapapun boleh mengutarakan apa yang telah dilihat, didengar, dan dirasa. Begitu juga Nisa. 

"Mudah ataupun susahnya itu tergantung pikiran kamu, Nis," ucap Rena lembut.

"Kamu enak, Na," ungkap Nisa hanya meliriknya sekilas, lalu menghembuskan napasnya pelan, "jadi anak satu-satunya dan mendapatkan kasih sayang orang tua secara utuh."

Rena lagi-lagi tersenyum. Nisa selalu begini, membandingkan dirinya dengan orang lain yang menurutnya lebih baik. 

"Aku selalu dibandingin sama anak tetangga, Na. Makanya aku gak bisa bebas melakukan apa yang aku mau," tutur Nisa sedih. 

Rena mengelus punggung Nisa pelan, "Kamu hebat kok, Nis."

Nisa tampak heran, keluarganya saja tidak pernah memujinya. Tapi Rena? 

"Aku gak bisa seperti kamu, Na."

"Nisa, potensi manusia itu masing-masing. Kamu bisa kok jadi apa yang kamu inginkan. Negara ini sudah merdeka, Nis. Kamu bebas melakukan apa yang kamu mau, selagi itu baik. Bebas itu ketika kamu tidak membandingkan diri kamu dengan pencapaian orang lain," tutur Rena menatap Nisa, "merdeka itu ketika kamu menjadi apa yang kamu inginkan, bukan yang orang lain inginkan."

Nisa tersenyum kecut. Rena ada benarnya juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar