Rabu, 28 Desember 2022

Antrian Panas

Seorang perempuan duduk mengantri di emperan bank. Dirinya tertutup oleh papan info bank, tapi terlihat dari dalam ruangan. Ia sudah kepanasan dari tadi, datang pukul sepuluh, sampai jam satu belum juga masuk ke bank. Nomor antrian yang panjang membuatnya hampir ingin membakar banknya saja. Pelayanan yang lama, membuat para pengantri mengeluh panjang. 

Perempuan itu akhirnya bersandar pada dinding kaca bank. Menyanyi lagu yang ia hafal liriknya, meski beberapa salah nada dan terdengar sumbang di telinga. Seorang teller yang melihat perempuan itu tertawa dalam maskernya. Sementara perempuan itu sudah tidak peduli tatapan-tatapan orang padanya.

"Perempuan itu lucu sekali," batin teller sambil melayani nasabah. 

Berkali-kali perempuan itu berdecak dan banyak mengembuskan napas kasar. Ternyata, menunggu itu membosankan. Syukur, ini masih banyak kepastian. Jika sia-sia, ia bersumpah akan merobohkan bank ini. 

Perempuan itu kembali bersandar dan menyanyi, meski lagi-lagi suaranya fals. Ia menggunakan tangannya sebagai mic, sampai ia terlihat sedikit tidak waras. 

"Allahu Akbar. Mungkin begini gambaranku menunggu jodoh. Berdoa sampai berbusa, pada akhirnya aku menunggu juga. Tidak papa, mungkin dengan begini aku lebih tahu arti bersabar dan percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik penentu. Heuheu .... " perempuan itu malah berpuisi dalam batinnya. Memang dia seorang seniman, hingga seluruh keadaannya dibuat layaknya drama, tapi tidak dramatis. 

Saat ia tengah mengembuskan napas kasar sekali lagi, dari dalam terdengar ketukan dinding kaca yang disandari perempuan itu, hingga membuat perempuan itu terkejut. 

"Mba, sudah saatnya anda masuk. Nomor antrian anda sudah dipanggil."

- s e l e s a i -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar