Sabtu, 31 Desember 2022

Jangan Lari, Terlukalah sampai Sembuh

".... Lari dari apa yang menyakitimu akan semakin menyakitimu. Jangan lari,  Terlukalah sampai kausembuh.... " maqolah dari Jalaluddin Rumi itu berhasil membuat benteng pertahanan Nayra runtuh. Gadis bermata cokelat, hidung minimalis, dan bibir tipis itu tengah menatap hamparan sawah di balkon restoran yang menampilkan pemandangan indah di sore hari. Seakan ia tengah menanggung beban paling berat dalam hidupnya. Setelah Nayra menceritakan apa yang tengah ia rasakan, seorang pemuda selisih lima tahun di hadapannya mendaratkan maqolah Rumi di telinganya. 

Tempo hari, Nayra memilih pergi dari kota asal menuju kota dengan minoritas muslim. Kota yang dijuluki sebagai kota pariwisata itu menjadi tujuan pelarian Nayra dari apa yang menyakitinya. Setahun lamanya ia berusaha menyembuhkan luka dengan menjadi guru mengaji di sana. Sesekali ia mengikuti diskusi moderasi beragama hanya untuk sekadar menjadi pelipur lara. Ia sengaja menyibukkan diri agar lupa dengan apa yang tengah dihadapi. 

Namun, waktu setahun tidak membuat Nayra benar-benar lupa. Sayangnya, ia malah makin merasa menderita. Berkali-kali ia mencari hal-hal yang dapat mengalihkan ingatannya, tetap saja pikiran Nayra akan kembali pada orang yang sempat menjadi teman perjalanan hidupnya. 

Sameer. Laki-laki yang selama ini menemani Nayra kemanapun ia pergi, menjadi tempat pulang ternyaman baginya, membuat Nayra memahami sebuah fakta bahwa sekeras apapun menolak takdir, manusia tetap tidak memiliki kuasa. 

Nayra menyeka air mata yang membanjiri pipi. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata apapun, hanya isak tertahan yang keluar dari mulutnya. Laki-laki dihadapannya yang merupakan teman Sameer, ikut diam menatap gadis itu. Seakan ia ikut merasakan perihnya pula. 

"Aku tidak akan bertanya tentang apapun. Yang aku tahu, jika kau terus berlari, bayang-bayang itu tidak akan meninggalkanmu." ujar laki-laki itu.

Tangis Nayra terhenti, meski isaknya masih tertinggal. Ia menatap laki-laki dihadapannya dengan tatapan penuh tanya. Seolah Nayra bertanya apa yang harus ia lakukan. 

"Waktu akan terus berjalan. Pemahaman-pemahaman baik akan kamu dapatkan. Berdoalah untuk Sameer karena yang kini ia harapkan hanya doa-doa dari orang yang menyayanginya. Ra, bukankah Tuhan memanggil hamba-Nya karena bentuk kasih sayang-Nya?"

......

- s e l e s a i -

Rabu, 28 Desember 2022

Antrian Panas

Seorang perempuan duduk mengantri di emperan bank. Dirinya tertutup oleh papan info bank, tapi terlihat dari dalam ruangan. Ia sudah kepanasan dari tadi, datang pukul sepuluh, sampai jam satu belum juga masuk ke bank. Nomor antrian yang panjang membuatnya hampir ingin membakar banknya saja. Pelayanan yang lama, membuat para pengantri mengeluh panjang. 

Perempuan itu akhirnya bersandar pada dinding kaca bank. Menyanyi lagu yang ia hafal liriknya, meski beberapa salah nada dan terdengar sumbang di telinga. Seorang teller yang melihat perempuan itu tertawa dalam maskernya. Sementara perempuan itu sudah tidak peduli tatapan-tatapan orang padanya.

"Perempuan itu lucu sekali," batin teller sambil melayani nasabah. 

Berkali-kali perempuan itu berdecak dan banyak mengembuskan napas kasar. Ternyata, menunggu itu membosankan. Syukur, ini masih banyak kepastian. Jika sia-sia, ia bersumpah akan merobohkan bank ini. 

Perempuan itu kembali bersandar dan menyanyi, meski lagi-lagi suaranya fals. Ia menggunakan tangannya sebagai mic, sampai ia terlihat sedikit tidak waras. 

"Allahu Akbar. Mungkin begini gambaranku menunggu jodoh. Berdoa sampai berbusa, pada akhirnya aku menunggu juga. Tidak papa, mungkin dengan begini aku lebih tahu arti bersabar dan percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik penentu. Heuheu .... " perempuan itu malah berpuisi dalam batinnya. Memang dia seorang seniman, hingga seluruh keadaannya dibuat layaknya drama, tapi tidak dramatis. 

Saat ia tengah mengembuskan napas kasar sekali lagi, dari dalam terdengar ketukan dinding kaca yang disandari perempuan itu, hingga membuat perempuan itu terkejut. 

"Mba, sudah saatnya anda masuk. Nomor antrian anda sudah dipanggil."

- s e l e s a i -