Minggu, 05 Oktober 2025

Obrolan Malam

Malam itu, kami bertiga berbincang panjang. Usia yang makin bertambah untuk menjadi dewasa, membuat pembahasan kami tidak lagi mengenai tugas-tugas kuliah yang telah lalu, akan pergi kemana waktu libur, atau mengenai makanan apa yang akan kami santap nanti. Melainkan mengenai kehidupan setelah menikah, bagaimana menjadi ibu dan bagaimana menjadi perempuan seutuhnya. Padahal, pasangan saja belum pasti hadirnya. Namun, pembahasan ini menjadi menyenangkan sekarang.

“Bagaimana menjadi ibu yang bahagia?

Bagaimana menjadi ibu yang bisa menjawab semua pertanyaan aneh anak-anaknya?

Bagaimana menjawab pertanyaan dengan selogis-logisnya dan mudah dipahami?

Bagaimana agar anak bahagia?

Bagaimana menjadi ibu yang bisa memberi teladan baik untuk anaknya?

Bagaimana agar mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anak?

Dan bagaimana agar anak mengenal Tuhan yang menciptakannya?”

 

Pembahasan ini diawali saat Mami (Panggilan akrab) melontarkan sebuah kalimat, “Ternyata punya anak itu benar-bener butuh kesiapan. Gua kemarin belajar banyak tentang ngurus anak.”

Itu membuat kami mendongakkan kepala saat masih sibuk dengan ponsel masing-masing. Dengan rasa penasarannya, kami menimpali, “Apa aja emang?”

Akhirnya Mami menceritakan kepada kami salah satu contoh seorang perempuan yang terlihat kurang siap memiliki anak. Itu membuat kami berkali-kali menelan ludah. Karena emang secapai itu menjadi seorang ibu baru, “Dan ternyata ada loh orang yang siap menikah, tapi nggak siap punya anak,” imbuh Mami.

“Bayi itu selalunya ngajak begadang. Itu tuh buat ngejaga kita. Tapi, kita sebagai ibu gamungkin membiarkan bayi kita melek sendirian ‘kan? Nah kapan waktu tidur bayi kalo malamnya begadang terus? Ya waktu tidurnya ganti siang. Nah, saat itu pula ibu ikut tidur. Tapi, kalo gitu terus, urusan rumah yang lain nggak bakal keurus ya ‘kan?” ujar Mami. Kami masih mencerna apa yang dia katakan.

Bayi memang sering sekali mengajak begadang ibunya, bahkan bisa saja kalo azan subuh belum berkumandang, belum juga tidur. Itu makanya, jadi ibu juga harus siap dengan resiko itu. Belum lagi urusan rumah, ngurus suami, dan hal-hal lainnya. Berhubung kami hidup di lingkungan yang mengedepankan pekerjaan rumah adalah bagian dari perempuan, maka kami juga memikirkannya. Bagaimana nanti kami melakukan semuanya dengan baik, bagaimana bisa mengaturnya, dan bagaimana agar kami nggak merasa sendirian (capai sendiri, stress sendiri, dan apa-apa sendiri). Dan lagi-lagi, semua itu butuh persiapan.

“Gua pernah ngasih kisi-kisi ke orang, kalo bayi nangis itu kemungkinan karena tiga hal, lapar, popok, dan tempat yang bikin dia nggak nyaman. Gua Cuma ngasih bocoran kan ya, urusan ngejalaninnya kan orang itu sendiri. Iyaa sih, gua belum nikah, Cuma sepengalaman gua ikut ngurusin keponakan gua, gua jadi tahu dikit-dikit lah ya dan harusnya orang itu tahu sih, tapi ternyata…” Mami mengembuskan napas frustrasi. “Soalnya ada tuh, bayi nangis terus, padahal ibunya disebelahnya. Dan yang dilakukan ibunya adalah ngasih susu. Bayi itu tetap nangis, ternyata masalahnya adalah popok yang belum diganti setengah hari, bayangin coba!”

Sebenarnya tujuan kami mengobrol hal ini adalah sebagai persiapan. Kami masih perlu banyak belajar agar bisa menjadi perempuan sekaligus ibu yang yang baik. Bagaimana agar rentetan trauma yang kami miliki tidak menurun ke pola asuh kami ke anak-anak nanti. Banyak yang harus kami ketahui, dari berbagai sumber, entah pengalaman, entah buku-buku, entah-entah jurnal akademik yang membahas tentang parenting. Mami juga selalu menjadi tempat bertanya kakaknya tentang anak. Meski Mami belum menikah, rasanya jika sama-sama berbagi ilmu yang diketahui, itu akan sedikit membantu.

“…. Mentok-mentok gua nyuruh kakak gua cari jurnal yang relevan sama masalahnya .…” begitu kata Mami ketika tidak punya solusi yang sebenarnya jadi solusi.

Kami juga sepertinya harus bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang ada ketika menjadi ibu baru. Menyesuaikan adat dari masing-masing daerah kami, yang itu sangat mendominasi di Jawa. Seperti saat baru melahirkan, orang-orang akan menjenguk. Dari momen ini ada banyak kemungkinan yang bisa menyentuh mental kami, pertanyaan-pertanyaan yang membuat tersinggung, kalimat-kalimat membandingkan bayi satu dengan bayi yang lainnya, ibu satu dengan ibu lainnya. Hal seperti itu bisa saja dihindari, tapi akan tampak berbeda. Toh, jika tidak ada jenguk-menjenguk, saudara sendiri bahkan, bisa saja membandingkan apa-apa milik kita dengan orang lain.

Semua kemungkinan menjadi ibu akan selalu menyentuh mental dan fisik. Jika kami tidak memiliki persiapan, salah satu atau bahkan dua-duanya akan runtuh dan itu memengaruhi sikap kami terhadap anak.

Obrolan malam kami diakhiri dengan doa. Tanpa sadar, kami mengutarakan harapan-harapan yang mungkin itu adalah harapan semua orang juga. Zaman yang katanya serba sulit ini, kami menginginkan keluarga yang mau diajak kerja sama dalam hal apapun. Tidak membebankan semua kepada suami atau istri saja, tetapi juga keduanya. Yang sadar tentang pentingnya masa depan anak tanpa dibumbui keegoisan orang tua. Yang sadar tentang pentingnya rumah tangga yang sehat. Dan malam itu kami berharap memiliki keluarga dengan financial freedom. Tentu kami berpikir jika kami memiliki financial freedom, kami dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak hanya itu, dengan financial freedom kami berpikir bahwa kami akan mampu memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak kami nanti. Terlepas dari madrasah pertama bagi anak-anak adalah ibunya dan ayah sebagai kepala sekolahnya, kami berharap setelah mendapatkan pendidikan pertama dari rumah, anak-anak dapat menjalani pendidikan dengan bahagia tanpa harus memusingkan biaya seperti ayah dan ibunya dahulu. Anak-anak dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan kami sebagai orang tua bertugas untuk mendukungnya.

Obrolan malam itu sebenarnya masih panjang. Karena pembahasan kami juga perlu penjelasan lebih panjang. Namun, kami mengakhirinya karena bagi kami, teori yang kami pelajari belum tentu sama dengan apa yang akan kami alami nanti. Setidaknya dengan kami membahas mengenai keluarga, parenting, dan semacamnya, kami memiliki sedikit pandangan bagaimana kami harus bersiap dan tidak buru-buru untuk memutuskan sesuatu yang akan kami bawa seumur hidup.