Penganut marriage is scary kalau mau nonton film ini, harus sampai akhir. Biar sisi gelap dan terangnya terlihat. Tulisan ini megandung spoiler, bagi kalian yang nggak nyaman, boleh lalu saja.
Mendengar kata mertua, membuat sebagian orang merasa bergidik. Seakan-akan mertua adalah sesuatu yang bisa saja menelan manusia hidup-hidup. Sehingga mertua menjadi antagonis di mata sosial. Siapa yang baca ini langsung ingat mertua? Silakan temui beliau, cium tangan wolak-walik. Hehe
Film garapan Aditya Santana yang tayang melalui aplikasi Noice ini tayang pada 17 April 2025. Saya menonton film ini atas rekomendasi teman melalui story whatsapp. Dari judulnya, saya seperti sudah menduga bahwa film ini akan menguras emosi. Betul saja, setelah menonton beberapa menit, saya mulai ikut geregetan dengan sikap-sikap yang ditampilkan oleh keluarga suami.
Rumah Impian Intan
Rata-rata orang yang sudah menikah akan memimpikan memiliki rumah sendiri. Membangun rumah tangga dan bahagia bersama keluarga kecilnya. Tidak perlu mewah, tapi nyaman untuk dihuni. Lain dengan Damar dan Intan yang kini tengah mengalami kesulitan untuk memisahkan diri dari keluarga Damar yang terdiri dari ibu dan dua orang adik, laki-laki dan perempuan. Ayahnya belum lama meninggal. Hanya rumah itu satu-satunya yang ayahnya tinggalkan untuk mereka. Sehingga terpaksa, Damar yang menjadi tulang punggung di keluarga itu.
Menurut saya, masalahnya bukan ada di pasutri itu, melainkan ada pada adik-adik Damar yang enggan membantu kebutuhan rumah. Semua kebutuhan ibunya dan adik-adiknya, termasuk kebutuhan pribadi adik laki-lakinya yang bernama Danan. Hal ini yang sering membuat emosi Damar kadang keluar dari kendali dan Intan berkali-kali menarik napas frustrasi. Dengan mencoba menanggung semua “beban” yang ada di keluarga itu, Intan mencoba sabar sekali lagi untuk rumah yang ia inginkan sejak menikah demi biaya wisudanya Danan, sedangkan adik perempuan Damar, Bela yang juga bekerja tidak memiliki inisiatif untuk membantu kesulitan yang dihadapi Damar. Ia malah dengan bangganya mengatakan bahwa ia akan bekerja di luar negeri dengan visa kerja minimal 50 juta.
Selain biaya kebutuhan rumah Damar yang menanggungnya, pekerjaan rumah tangga yang terlihat sepele itu Intan-lah yang melakukannya, mulai dari bangun tidur hingga akan memejamkan mata lagi. Tidak hanya itu, Intan juga harus menanggung “beban” psikis yang membuatnya menangis tiap kali menghadapinya. Beruntung ia memiliki teman yang mau diajak ngobrol tentang masalah rumah tangganya, meskipun temannya selalu memberikan tanggapan yang out of the box, tapi setidaknya Intan bisa tertawa sejenak.
Percaya Diri itu Baik, yang Nggak Baik itu Terlalu Percaya Diri yang Akhirnya Merugi
Bermula saat Damar menanyakan apa yang akan dilakukan Danan setelah wisuda. Danan dengan percaya diri mengatakan bahwa ia akan fokus dengan bisnis kopinya. Berbekal sosial media dengan banyak pengikut, Danan merasa dapat membangun personal brandingnya melalui itu. Padahal, Damar memberikan saran, lebik baik bekerja dahulu sebelum memulai bisnis. Saya sebagai penonton mendengar saran dari Damar ada benarnya juga, sebab melihat kondisi sekarang yang apa-apa butuh perencanaan matang dan modal yang bukan lagi hitungan ribu agar bisa menjalankan bisnis secara konsisten. Namun, Danan tetap kekeuh dengan rencananya.
Selang beberapa bulan, ekspresi Danan berubah. Semangat kerjanya terlihat menurun, kesehatan ibu juga sudah mulai terganggu. Damar dan Intan yang menerima penawaran pacarnya Bela mengenai tanah siap bangun, kini mengalami masalah baru. Pacar Bela yang memegang uang DP tanah itu tidak dapat dihubungi. Berkali-kali, setiap menit, setiap detik, Damar memcoba mengubunginya, tapi nihil. Bela sebagai pacarnya pun diabaikan. Hingga pada saat yang bersamaan, teman Intan yang bernama Ambar tidak sengaja melihat banner yang berisi tulisan bahwa tanah yang di DP Damar menjadi jaminan bank. Kalian bisa megerti ‘kan, Damar dan Intan mengalami apa? Ya, penipuan. Sehingga saat itu juga, Damar memutuskan untuk mencari kontrakan, meninggalkan rumah dengan pikiran yang carut marut, berharap ada keberuntungan sekali seumur hidup untuk membawa istrinya keluar dari rumah itu.
Puncaknya adalah sekembalinya damar dari mencari kontrakan yang tidak menemukan deal karena uangnya tidak cukup, Damar melihat rumahnya sudah bersegel sitaan bank. Satu-satunya peninggalan ayahnya itu digadaikan oleh adiknya, Danan untuk membangun bisnisnya yang berakhir tidak bisa mengangsur sebab bisnisnya tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Jadi Intan Berat, Jadi Damar Juga lebih Berat
Di titik paling berat, tidak semua orang dapat bertahan. Situasi yang menimpa keluarga Damar tidak kunjung mereda. Mungkin, masalah akan sedikit teratasi ketika adik-adiknya Damar menurunkan egonya, menghapus gengsinya demi kehidupan yang lebih stabil.
Di titik itu, Damar merasa putus asa. Segala hal yang ia lakukan demi keluarganya seperti sia-sia. Damar juga berpikir bahwa jika Intan ingin meninggalkannya, maka lakukan saja. Namun, Intan tidak akan melakukan hal itu. Baginya, Damar adalah suami yang baik, semua pengorbanan untuk dirinya dan keluarganya sangat luar biasa. Intan merasakan sakit, tapi jadi Damar juga lebih sakit. Intan menanggung beban yang berat di hatinya, jadi Damar juga lebih berat. Pada akhirnya, mereka memilih untuk bersama-sama sekali lagi.
Di ujung film diceritakan Bela memutuskan menunda bekerja di luar negeri dan mengorbankan tabungannya untuk membayar angsuran bank yang menunggak demi mempertahankan rumah yang mereka tempati. Danan juga memilih berkerja atas tawaran temannya dan menutup bisnis kopinya sebagai tanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat.
Mungkin bagi beberapa orang, termasuk saya, film ini terlampau relate. Sebab, seseorang yang memutuskan untuk menikah, berarti mereka harus siap dengan segala hal yang akan terjadi dalam pernikahan itu. Seperti keluarga Damar yang awalnya baik-baik saja saat ayahnya masih hidup, tiba-tiba dihadapkan berbagai masalah setelah kepergian ayahnya.