Kamis, 01 November 2018

The Power of Santri

Azan maghrib berkumandang menggetarkan telinga. Para santri bergegas menuju ruang salat untuk mengikuti jamaah, ada pula yang tengah mengantri wudu, dan ada yang tengah menjumput sarung dan kopiah yang menggantung di langit-langit kamar.

"Ayo, Syad, pak kiai sudah datang!" Seru Asep kepada Arsyad yang tengah sibuk memakai sarungnya.

"Bentar-bentar! Sarungnya tinggi sebelah, Sep," ujar Arsyad. Mungkin ia tergesa-gesa hingga memakai sarung pun tidak sebagaimana mestinya, "ayo, Sep!" lanjutnya setelah membenarkan posisi sarung yang tinggi sebelah.

Semua santri putra melaksanakan salat berjamaah. Tidak ada yang absen untuk kegiatan itu. Sebab, satu kali tidak mengikuti salat berjamaah, pasti terkena takzir (sebutan hukuman di pondok pesantren).

Usai salat maghrib, para santri membaca wirid hingga menjelang isya. Saat para santri berseru membaca wirid, kepala Arsyad tertunduk dalam-dalam. Ya, dia mengantuk. Bahkan, tertidur dalam posisi duduk.

"Arsyad!" Lirih Asep sembari menyenggol lengan Arsyad, "jangan tidur tho!  Kalo pak kiai lihat, bisa kena marah kamu," lanjutnya berbisik dan Arsyad hanya mengangkat jempolnya.

Azan isya menggema, membaca wirid pun selesai. Semua santri kini bersiap salat isya, yang tadi mengantuk bergegas mengambil air wudu.

Usai mengerjakan empat rakaat di sepertiga malam pertama, para santri menuju ruang kelas untuk mengaji. Membawa kitab Alfiyah Ibnu Malik serta kitab kecil berisi nadhamnya.

Saat para santri sibuk mengobrol dan bergurau sembari menunggu pak ustadz datang, Arsyad mencoba membuka kitab dan membacanya. Ya, Arsyad adalah juara pondok. Cara dia membaca kitab, hafalan, dan nahwu sharafnya luar biasa.

Setelah lama menunggu, pak ustadz tidak kunjung datang. Jika seperti ini, para santri paham, pasti pak ustadz tidak datang!

"Rek! Yok lalaran wae, pak ustadz mboten rawuh kayane," seru salah seorang santri yang langsung disetujui oleh teman-temannya.

"Ayok! Awakmu nabuh ember, aku nabuh gayung, Arsyad nabuh galon, liyane nyanyi!" Perintah santri tadi.

"Eh kok nyanyi ki pye? Lalaran woy!" Sangkal Asep.

"Iyo, Sep, maksudku kui," balas santri itu.

Para santri yang ada di kelas itu bersama-sama melantunkan Nadhom Alfiyah Ibnu Malik dengan lantang dan kompak.

"Qoola Muhammadun Huwabnu Maliki..."

Tidak sampai selesai seribu dua bait, hanya hampir setengahnya. Sebab, malam semakin larut dan para santri kembali ke kamar masing-masing.

Saat Arsyad dan Asep hendak ke kamar, seorang ustadz menghampiri mereka.

"Syad, Sep, lusa kan hari santri, kalian disuruh pak kiai mengikuti lomba baca kitab, gimana?" Ucap ustadz itu.

"Siap, Tadz! Ngomong-ngomong hadiahnya apa, Tadz?" Ujar Asep dengan muka sumringah, sedang ustadz itu hanya tersenyum.

"Husss, Sep! Jangan ngarepin hadiahnya, yang paling penting niatnya buat mencari ridha Allah dan barokahnya ilmu, Sep," sangkal Arsyad menjelaskan.

"Nah bener tuh, Syad, dengerin atuh, Sep!" kata ustadz itu membenarkan perkataan Arsyad. Sedang Asep, hanya menyeringai lebar. Merutuki perkataannya barusan.

Menjelang hari santri, para santripun bersih-bersih lingkungan pondok pesantren. Menyiapkan segala sesuatu untuk acara pengajian. Hari ini tidak ada jam mengaji. Seluruh santri sibuk untuk acara tersebut.

Setelah semua beres, para santri istirahat di teras pondok. Sekadar berbaring menikmati udara segar. Bagitu pula Arsyad dan Asep. Serasa tak berdosa, mereka berbaring di atas panggung untuk acara pengajian nanti malam.

"Syad, sampah tadi pagi belum kubuang, aku lupa kalo hari ini piket," ucap Asep sembari menepuk jidatnya.

"Ha ha tak tau, ayolah kita buang sekarang!" Sahut Arsyad menirukan gaya salah satu tokoh kartun animasi.

Tanpa babibu, Asep beranjak dari panggung, sedikit berlari menuju belakang pondok, disusul Arsyad dibelakangnya.

Saat tiba di belakang pondok, Asep tidak melihat tumpukan sampah seperti tadi pagi. Ia mulai risau. Kenapa dia bisa lupa dengan piketnya?

"Syad, sampahnya hilang! Duh, bisa kena marah lurah pondok ini," ujar Asep merutuki dirinya sendiri.

"Mungkin udah dibuang Rahmat, Sep, dia piket bareng kamu kan?" Ucap Arsyad.

"Rahmat nggak tugas buang sampah, Syad, dia tugas bersihin kamar mandi sama anak-anak lain," ucap Asep.

Sebenarnya itu adalah piket para santri yang sudah di ndalem (semacam mengabdi pada kiai). Jadi, piket itu dibagi bukan untuk seluruh santri, tapi hanya untuk para santri yang di ndalem. Termasuk Arsyad dan Asep.

Dari kejauhan terlihat dua orang lelaki, yang satu membawa gerobak sampah dan yang satu menjinjing bak sampah. Asep semakin ketar-ketir.

Ternyata benar, mereka adalah lurah pondok dan santri yang telah lama mengabdi. Asep hanya merunduk dalam-dalam. Ia waspada dengan lurah pondok yang terkenal tegas itu.

"Kamu yang piket hari ini ya?" Ujar lurah pondok setelah sampai didepan Asep berdiri.

"Nggih, Tadz," jawab Asep lirih.

"Lain kali lebih tanggung jawab dengan tugasmu sendiri!" Tegas lurah pondok membuat Asep bergidik ngeri.

"Nggih, Tadz!" jawab Asep datar.

Malam harinya para santri bersiap-siap untuk mengikuti acara. Memakai baju serba putih. Acara diawali dengan membaca salawat nariyah dan dilanjutkan dengan acara lainnya.

Acara demi acara terlaksana sebagaimana mestinya. Pengajian ditutup dengan penampilan drama dari kelas 5 Ibtida'. Kini giliran membersihkan seluruh peralatan ataupun lingkungan yang dipakai.

Keesokan paginya, Arsyad dan Asep bersiap mengikuti lomba. Menyiapkan kitab kuning yang sesuai ketentuan lomba. Tidak hanya Arsyad dan Asep, santri lain pun bersiap untuk ikut meramaikan acara perlombaan di hari santri yang dihadiri oleh para ulama, kiai, dan para santri.

"Udah siap?" Tanya ustadz pada Arsyad dan Asep.

"Insyaallah siap, Tadz!" jawab keduanya serentak.

Sesampainya di tenpat lomba, Arsyad dan Asep di tempatkan pada posisi para peserta lomba yang didepannya terdapat para kiai dengan wajah berseri.

Lomba dimulai, satu per satu peserta lomba baca kitab maju. Sekarang giliran Asep. Ia mengatur napasnya yang tidak teratur. Degup jantungnya semakin kencang. Namun, seterusnya lancar.

Selang beberapa menit, Asep selesai. Wajahnya kembali menampakkan senyum. Kini waktu untuk Arsyad maju. Ia menarik napas perlahan.

"Fashlun, utawi iki iku fasal suwiji...." Arsyad mulai membaca kitabnya. Lancar. Pertanyaan-pertanyaan pun dapat ia jawab dengan cepat dan tepat.

Jihad seorang santri bukan berperang dengan senjata, menyalahkan orang lain, dan mengafirkan satu sama lain. Bukan! Tetapi santri berjihad dengan ilmu, dengan patuh pada kiai, ustadz, dan para guru, dan tak lupa patuh pada orang tuanya.